Tuesday, November 8, 2011

Cerpen Jaman Ga Enak


Iseng waktu nganggur buka2 folder tugas kelas 1 SMA. Ada satu File yang judulnya Cerpen X8. aku yang ga inget kapan bikin itu dan tugas apa, baca dari awal sampe akhir..
ini nih cerpennya.. judulnya Tragedi X8. Dari judulnya aja kayak cerita detektif gitu. padahal ga blass. ahahaha

TRAGEDI X-8

Priitt… bunyi peluit berbunyi. Anak-anak pun segera berkumpul di taman. Mereka berjalan sambil bercanda gurau. “Eh, kenapa sich sekolah kita nggak punya lapangan sendiri?” celetuk raras . “Huh. Kita kan jadi capek jalan ke taman yang jauh!” tambah vira. “huh. Dasar ENDEL!” sahut Ria. Mereka segera bergegas berkumpul di taman karena Pak Doni sudah ngomel-ngomel. Sambil mengabsen anak-anak yang hadir, “ehm.. tadi saya dengar, kemaren saat jam pelajaran terakhir bahasa inggris anak X-8 banyak yang ghoib. Kemana semua itu ?”. Tanya Pak Doni. Suasana pun hening seketika. Mereka saling memandang satu sama lain. “Kok pada diem? Kemana yang ghoib-ghoib kok pada nggak mau ngaku semua?” Tambah Pak Doni. Anak-anak pun masih tidak ada yang mau menjawab. “Yah sudahlah, sekarang materinya Badminton.” Lanjut Pak Doni. Anak-anak pun segera mengambil raket.

Selesai pelajaran Olah Raga, anak-anak bergegas ganti baju dan istirahat di kantin. Kringg..!! tak terasa bel tanda masuk telah berbunyi. Mereka masuk ke kelas masing-masing dan bersiap memulai pelajaran.

Di kelas Bahasa Indonesia yang sedang di tempati X-8, suasana masih ramai Pak Darwis belum juga datang. “Haduh, Pak Darwis mana ya? Kok jam segini belum juga datang?” Ujar Dian sambil melongok kedepan pintu sambil mencari sang wali kelas. “iya ya, padahal sudah satu jam pelajaran. Kok tumben banget..” Sahut Ria. Tiba-tiba vira datang menyenggol Dian “eh, ntar aku ijinin ya. Sekarang aku mau ke acara mading, aku berangkat yaa..”. “Sipp dah.. hati-hati ya.. ” Jawab Dian sambil mengacungkan jempol. Setelah di tunggu-tunggu, Tak lama kemudian Pak Darwis datang. “nah. Akhirnya datang juga”. Celetuk Raras. Tapi beliau datang dengan muka datar. Anak-anak sempat curiga . Nggak seperti biasanya pak Darwis seperti ini . “Anak-anak, semuanya naik ke lantai 6 ! sekarang !!” perintah beliau . “ ha ? ngapain pak ?” Tanya nina heran . namun pak darwis diam saja ..

Penasaran. itu yg dirasakan anak-anak X-8. sambil bergegas kelantai 6, mereka mengeluh “tega ya.. kita kan habis olahraga.. “ celetuk Ria. Yang lain mengiyakan. Sesampai dilantai 6, kita disuruh berbaris. Setelah itu, pak Darwis mengatakan tujuannya mengapa murid-muridnya berada disini. “Kalian tahu alasan saya membawa kalian kesini? Tadi saya dengar dari bu Evi bahwa kemarin pada pelajaran bahasa Inggris hampir setengah siswa kelas ini menghilang tanpa keterangan. saya kecewa sekali dengan kalian..” Anak-anak langsung menundukkan kepala. Mereka tak berani menjawab.

Uli tak tahan dengan terik matahari yang sangat menyengat saat itu “pakkkk…. panasssss…..!!!!!!!!!” pak Darwis menjawab “iya saya memang sengaja menjemur kalian disini sebagai hukuman. Yang salah maupun nggak, semua kena.. karena kita adalah keluarga. Walaupun diantara kalian yang bolos kemarin ada yang nggak ngaku, tapi Allah Maha Tahu! ingat itu !!”. Ria berbisik-bisik ke Dian “kenapa ya, tiap kelas kita punya masalah vira mesti nggak ada. Dulu waktu hapenya Mirza hilang dia juga nggak ada.. huh..nggak kompak tuh anak” Dian hanya mengangguk. Hawa panas di lantai 6 yang terbuka itu pun semakin menjadi-jadi, ‘’kalian itu jika mau berangkat dari sekolah niat yang benar, lalu membaca Bassmalah sebelum memulai pelajaran, biar setannya tak mengganggu kalian dan bisa mengikuti semua pelajaran hingga jam terakhir.’’ Kata Pak Darwis untuk mengingatkan semua anak didiknya itu. ‘’ jika minggu depan ada satu anak atau sehari saja ada yang membolos, semuanya akan saya suruh untuk membersihkan kamar mandi.’’ Lanjut beliau. Semua anak merenungkan kata-kata Pak Darwis dan menyadari kesalahannya. Setelah satu jam dihukum, para siswa kelas X-8 turun ke lantai 5 untuk melanjutkan pelajaran.

Setelah kejadian di lantai 6, ada perubahan pada anak-anak yang sering membolos, mereka ternyata sangat menuruti perkataan dari wali kelasnya itu. Mulai dari tidak pernah membolos lagi sampai rajin sholat dan mengaji. Mereka juga setiap pagi sebelum pelajaran pertama dimulai, membaca Janji Pelajar Muhammadiyah. Pak Darwis pun terkesan melihat perubahan dari anak-anak X-8. Beliau senang dan kagum. Begitu pula dengan Bu Evi, tersenyum bahagia..

“Kita berhasil merubah sikap kita!!” Nicky berteriak senang. “kita..? gue aja kaleeeeeeeee!! haha” kata Raga sambil nyengir. Yang langsung disambut dengan teriakan heboh dari seluruh anak. “haduh jangan protes gitu dong.. kan bercanda.. hehe. pokoknya mulai saat ini kelas kita harus lebih kompak dalam hal kebaikan..” Raga berpesan. “Oke. oya gimana kalau setiap pagi kita shalat dhuha bareng ? setuju?” septa mengusulkan.. “aduh septa.. nanti kita bisa telat.. lagian kalau datang terlalu pagi, aku masih ngantuk” salah satu anak menyahuti. “ASTAGFIRULLAH…” seluruh anak istighfar..


cerpen ini beneran lho, cuman ending sebenarnya ga kayak gitu. mana mungkin mereka insaf.. ahahahaha. malah makin sering bolos..
itulah kenangan kelas 1 SMA. hohohohoho